Tuesday, October 11, 2011

Cinta; kadang-kadang, tak dimiliki.

Assalamualaikum w.b.t

Kisah cinta; Salman Al-Farisi.
diterjamah; bahasa Indonesia kepada bahasa Melayu


Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Ansar yang
dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi solehah juga telah mengambil
tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah
pilihan dan pilihan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal yang sihat. Dan
pilihan menurut perasaan yang halus, juga roh yang suci.

Tapi bagaimanapun, dia merasa terasing di sini. Madinah bukanlah tempat
kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya membesar. Madinah memiliki
adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenali. Dia
berfikir, melamar seorang gadis tempatan tentu menjadi sebuah urusan yang
pelik bagi seorang pendatang. Haruslah ada seorang yang akrab dengan tradisi
Madinah mewakili dirinya dalam khithbah (melamar). Maka disampaikannyalah perasaan
hati itu kepada sahabat Ansar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya.
Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasakan
cukup, beriringanlah kedua sahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru
tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang solehah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang
Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah
memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang
utama di sisi Rasulullah s.a.w, sehinggalah baginda menyebutnya sebagai ahli bait-nya.
Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar puteri anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima anda berdua,
sahabat Rasulullah s.a.w yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini
bermenantukan seorang sahabat Rasulullah s.a.w yang utama. Akan tetapi hak
jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi
isyarat ke arah hijab yang di belakangnya, puterinya menanti dengan
segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterus-terangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata
ibunya yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi kerana anda berdua yang
datang, maka dengan mengharap redha Allah saya menjawab bahawa puteri kami
menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki
niat yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawapan mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterus-terangan yang mengejutkan, ironik, sekaligus indah.
Puteri itu lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu
mengejutkan dan ironik. Tapi saya juga mengatakan indah kerana satu
alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan
persaudaraan bergelora berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu
dan bertemu dengan gelombang kesedaran; bahwa dia memang
belum mempunyai hak apa pun ke atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar
kan perbicaraannya.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan
ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi
pernikahan kalian!”

Cinta tak harus memiliki. Dan sememangnya kita memang tak pernah memiliki
apa pun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesedaran
tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih,
merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa
dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah,
dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang
yang kita cintai, mari belajar daripada Salman. Tentang sebuah kesedaran yang
kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Wallahua'alam.

No comments:

Post a Comment

بسم الله الرحمن الرحيم