Sunday, July 29, 2012

Talaqqi I.


Assalamualaikum w.b.t

Di-didiknya kami, memulakan sesuatu dengan niat.
Maka niat yang diperdengarkan kepada kami oleh guru-guru kami adalah niat belajar al-Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad, mafhumnya:

“Aku berniat belajar dan mengajar, mengingat dan memberi ingatan, memberi manfaat dan mendapat manfaat, memberi faedah dan mendapat faedah, menggalakkan berpegang dengan kitab Allah dan Sunnah RasulNya, mengajak kepada hidayah dan menunjuki kepada kebaikan. Semuanya ini adalah semata-mata mencari rahmat, keredhaan, qurbah dan ganjaran Allah s.w.t.”

Di-didiknya kami, duduknya dihadapan guru itu dengan adab.
Dan membaca al-Quran juga ada adabnya.

Maka kami memilih untuk menggunakan kata ganti nama “kami”, yang sering digunakan guru-guru kami dengan niat mencontohi orang-orang soleh, insyaAllah. Dan juga “kita” dalam beberapa situasi yang membenarkan dan sesuai dengan penggunaannya, insyaAllah.

Dengan iradah Allah yang Maha Mengetahui, mengizinkan kami menghadiri talaqqi pertama kalinya di ANX102, Pusat Asasi UIAM PJ. Guru kami yang pertama untuk talaqqi kitab yakni Ustaz Muhadir Hj Joll. Dan berlainan pula guru kami yang mengajar al-Quran dan memperdengarkan bacaan kami semenjak kecil adalah Ustazah Junaidah selain keluarga kami yang mendidik. Moga Allah merahmati mereka.

Dan yang pertama antara ilmu-ilmu yang dicurahkan adalah syarah Hadith ke-23 daripada kitab 'Arbain Nawawiah.

Syeikhuna telah memperdengarkan hadith di hadapan kami dan berpesan membaca hadith seperti mana kami mendengar daripada guru. Lalu kami memutuskan untuk memperlihatkan bagaimana guru kami berhenti pada tempatnya dengan membezakan baris di dalah terjemahan hadith insyaAllah seperti berikut;

“Dari Abi Malik al-Harith bin 'Asim
al-Ash'ari
radiyallahu'anhu katanya,
Telah bersabda
Rasulullah
Sallallahu 'alayhi wa sallam
Suci itu
sebahagian iman,
dan Alhamdulillah,
memenuhi timbangan,
dan Subhanallah,
dan Alhamdulillah
keduanya memenuhi
atau memenuhi [perawi syak] ruang antara langit dan bumi,
dan sembahyang itu cahaya,
dan sadaqah itu keterangan,
dan sabar itu sinaran,
dan al-Quran itu hujjah (dalil)
bagi engkau atau atas engkau.
Sekalian manusia itu
berpagi-pagi
maka ada orang yang menjual dirinya,
lalu dimerdekakannya atau dibinasakannya.”
Riwayat Muslim.

Maka begitulah sebagaimana berhentinya guru kami membaca di setiapnya.

Guru kami berkata;
“Supaya jangan sombong, Allah bagi kuat hafazan, tarannum biasa.
Hafazan lambat, tarannum baik. Bukan riya', tapi mencantikkan bacaan.
Masing-masing dengan kelebihannya.”

Pada bait;
dan Alhamdulillah,
memenuhi timbangan.

Guru kami berkata;
“Tidak mungkin sesuatu memenuhi mizan melainkan sesuatu yang berat.”

Pujian itu terbahagi empat;
Allah memuji diriNya.
Allah memuji makhlukNya.
Makhluk memuji Tuhannya.
Makhluk memuji makhluk lain.

Dan sesuatu mengajar kami tentang pujian dan kritikan baru-baru ini.
Apakah sebenarnya yang dipuji?
Apakah sebenarnya yang dikritik?

Jika kita memuji sesuatu, akan kecantikan, kepandaian mahupun keelokannya.
Bukankah semua itu diciptakan oleh Allah?
Maka selayaknya kita memuji Allah berbanding manusia.

Jika kita mengkritik sesuatu, akan kehodohannya, kekurangannya mahupun kesilapannya.
Bukankah semua itu atas kehendaknya Allah?
Maka selayaknya kita berdiam diri dan redha.
Kerana sesungguhnya, pengetahuan kita itu sedikit sekali untuk kita menilai.
Dan kekurangan kita itu lebih banyak berbanding yang dikritik.

Dengan izin Allah, pada pengajian kali ini, kami mendapat ijazah bacaan zikir sebelum terbit fajar.
Qabiltu.

Pada bait;
dan sembahyang itu cahaya,

Guru kami berkata;
“Amalan yang paling tinggi adalah solat.
Solat berasal dari silatun, bermaksud menghubungkan.
Solat yang paling utama adalah solat fardhu.
Orang yang menjaga solat, akan menjadi cahaya.”

“Wudhu' yang sempurna; jangan terlalu sikit airnya. Jangan terlalu banyak airnya.”

Pada bait;
dan sadaqah itu keterangan,

Guru kami berkata;
“Orang yang bersedekah itu, hartanya akan menjadi saksi.

Pada bait;
dan sabar itu sinaran,

Guru kami berpesan;
“Sabar dalam taat.”

Dan kami terbaca di antara kitab-kitab kami, berpesan supaya;

“Bersabarlah kamu dalam menjalani ketaatan kepada Allah,
kerana pasti, kamu tidak akan dapat bersabar dalam menghadapi azabNya.”

Pada bait;
dan al-Quran itu hujjah (dalil)
bagi engkau atau atas engkau.

Guru kami berkata;
“Apabila menghafaz tetapi tidak mempraktikkan,
maka al-Quran akan menjadi hujah ke atas kamu.”

Pada bait;
Sekalian manusia itu
berpagi-pagi
maka ada orang yang menjual dirinya,
lalu dimerdekakannya atau dibinasakannya.

Guru kami berkata;
“Allah akan memerdekakan daripada nafsu.”

“Siapa yang keutamaannya untuk perut dan syahwat,
maka nilainya seperti apa yang keluar dari keduanya.”

Saidina Ali r.a adalah orang pertama yang menjual dan dibeli oleh Allah s.w.t.

Dan seterusnya guru kami meneruskan pengajian dengan pembacaan kitab terjemah “Matan Ghoya Wat Taqrib” karangan Abi Syuja' Ahmad Al Ashfahani.

Pembahasan 1: Bersuci, muka surat ke 5.

“Dan sunat-sunatnya wudu' itu ada sepuluh perkara, yaitu:
  1. Membaca Basmalah,
  2. Mencuci kedua telapak tangan sebelum memasukkanya ke tempat air,
  3. Berkumur dan menghirup air ke dalam hidung (lalu disemprotkan keluar hidung),
  4. Mengusap seluruh kepala,
  5. Mengusap kedua telinga, luar dan dalamnya dengan air yang baru,
  6. Menyela-nyelai jenggot yang lebat,
  7. Menyela-nyelai jari-jari kedua tangan dan kedua kaki,
  8. Mendahulukan anggota tubuh yang kanan sebelum yang kiri,
  9. Membasuh setiap anggota wudu' sebanyak tiga kali,
  10. Bersambung (tanpa berhenti).”

Dan seterusnya guru kami menjawab beberapa permasalahan yang diajukan ahli pengajian.

“Asal kepada sesuatu itu harus melainkan ada dalil yang mengharamkannya.”

Catitan kami berakhir dengan pesanan guru;

“Kamu akan dikumpulkan bersama orang yang kamu cintai.”

Allahua'lam.

Friday, July 27, 2012

The joy and not-so-pain; Friends.


Assalamualaikum w.b.t.

I had longing to write something about friends, and I had.
But this time I shall write it once more, to remind me about how I was happy,
how I was sad, with or without my friends around me.

My circle of stars.

Since I was in the elementary school, I was always in a trio.
The three musketeers.

It started with me, Nur Syawani Izzati and Nur Afiqah.
We were together for almost forever.
Afiqah was there when I was sick during second grade.
Syawani was there when I was helpless during sixth grade.

For six whole years, we were comfortable.
The we got separated. I went to SAMTTAR, Syawani went to SAMTAJ and Afiqah went to another Islamic boarding school which I forgot its name.
Then we got far more separated. I went to IIUM, Syawani went to UiTM, Johor and Afiqah went to Matriculation.

We met once a year, ever since that. But it had not happened last year.

I wasn't making close friends that much back in SAMTTAR.
But when I went to SMKAM2, I had two.

The second three musketeers, me, Nur Aisyah and Mursyidah.
We were all librarians during my second year there, which was form four.
We were all Quarter Masters since my first year.
Aisyah was there when I collapsed during form three.
Mursyidah was there when I exploded during, well, every year.

For three years, we tie the knot.
I had my mistakes. Having another group of friends which I called Brothers and Sister.
And it occurred to me that it was the price I have to pay.
The friendship I had to choose.

For some reasons, however my brothers took care of me. Until the point of I have no need of carrying my bags, I had everything I need and Ice Lemon Tea will always be at the corner of my desk. But, still, it can't be compare to the friendship among sisters. The boundaries, are still there blocking all the way through.

Then we got separated.
No longer Three Musketeers or Brothers and Sister.
I went to IIUM, Aisyah went to UiTM, Perak and Mursyidah went to a university in Indonesia.
Along went to UiTM Puncak Alam, Angah went to UniTen, Alang went to Polytechnic, Kedah and Acik went to UiTM, Melaka.

The reason why, the first thing occurred in my mind when I entered CFS, I thought, “I would never find a friend, that when we got separated, I'll feel this hurt.”

The three musketeers made its own history with me, Fatin Husna and Nur Aini are still together until this moment in the same class.
Not to mention I had 190.
I had Aimi Diyana and Nur Izzati as roommates.

I have Saffana and Izzati for my tasmi' class.
I have Fatin Nuradilah for my talaqqi.
I have Kasriyani and Alya for my meetings then.

I had my arguments with the three Hafiz.
I had a lot of arguments, but there will be none after this.

None of it will stay forever.

Besides my good friends I mentioned, I had one which are close enough to my heart.
She was and is my neighbour.
She was and is my Farah Aisyah.

The one who was there one night when I cried and searched her at her house.
The one who was there when I needed someone to accompany me.
The one who can say “no” to me.
The one who encourage me to wear niqab, and walked besides me.
The one who call me “Miwaaaa”.

The one, who is leaving me for Sabah.

I do not know how to exactly put into words, how can I describe her leaving me.

We had our disagreements, but not that huge.
She'll always be there. Somewhere, even it is not besides me.

Those who I called during my time here will be her, Che Khuizzatieliana and Nur Aisyah.
Because I had changed, and that they wasn't exactly here to see me.

When I went to a group, those who I called friends will say how decent and lady-like I am.
In another situation, those who I called friends will be shocked at how playful and not-up-to-maturity I am.
In an awkward situation, those who I called friends will wondered of my seriousness.

And it happened that some friends knows me better than others.
And they can stand this Amirah Hazwani who sometimes can be as serious as possible or as playful as I can be or as decent as I can reach.
They can stand to read all my 6-pages or so text messages.
They can bare to hear my complaints, my so-not-funny-jokes, my presentations, my... voice.

I just can't understand, how Centre of Foundation Studies IIUM gathered all these students and somehow, I'm here. With my friends.

And still, I have my friends back home, or somewhere else in this world and still be me.
As a bonus, I hadn't cry because of worldly matters for quite some time.

“You heart my dear sisters, sometimes break. And it sometimes break for the wrong reason. And if it's not for Allah, it is a shame.”
Quoted from Syeikh Yahya Ibrahim at Being Me Conference.

I am determine, to write what I had known. My friends know for a fact that my travels had been for Allah and al-'Ilm. But sometimes because it is so much, I didn't share even one piece of knowledge. So I write, because, well, my friends is currently reading this blog. Recently, I had my time to re-read my Bidayah [what I called for Bidayatul Hidayah] and here's one passage that I'm in love with, along with the whole book:

“Berkata Qadhi Ibnu Ma'ruf R.A:

Berhati-hatilah daripada musuhmu sekali dan berhati-hatilah daripada sahabatmu seribu kali.

Barangkali sahabatmu akan bertukar menjadi musuh pada suatu masa kelak maka ia lebih tahu bagaimana untuk menyaikitimu.”

People needs friends, it's a gift from Allah.
For a fact that friends do define who you are, it is important of how-to-choose.
But facts of course have flaws.

Sometimes there's a hidden lie behind a simple truth.

People and the relationship with the world, as Yasmin Mogahed said;

“Sometimes going, sometimes taking, sometimes chasing but most of the time waiting. The one who runs after a mirage would achieve nothing but keep running. No matter how close you get to the mirage, you can't keep it.”

As far as I am concerned, none of the wisdom came from me. I either quoted it and mentioned, sometimes not when I forgot his or her name and verily, everything came from Allah.

He's the Most-Knowing and Most-Forgiving.

Last, but of course not the least,

“Sometimes when we were born in Islam, we forgot about it until we lost it.”
Quoted from Raya Shakatfard at Being Me Conference.

Huge, huge love to my friends.
Unknowingly amount of love to my Prophet Muhammad s.a.w.
Indefinite, extravagantly-awesome and special love to my Creator, Allah s.w.t.

Yes, I know,
Alhamdulillah, Islam is a part of my life.

Allahua'lam.

Saturday, July 21, 2012

Menjaga hati dalam menulis,

Assalamualaikum w.b.t.


Ramadhan Kareem ya ikhwani wa akhwati.


Dan sesungguhnya hati ini mencintai setiap dari padamu kerana Allah.


Khair, sudah lama tidak menulis. Malah sudah beberapa kali berfikir hendak berhenti sahaja menulis. Hinggalah satu hari diperingatkan untuk tetap menulis dari Sir Alizaman.


Dan beberapa hari lepas diingatkan kembali oleh Tariq Ramadhan yang berkunjung ke Malaysia.


AllahuAllah, betapa kadang-kadang hati di sini meringankan apa yang hendak ditulis.
Kerana perkara lagha itu seharusnya dijauhi, maka menulis dan membaca satu penulisan hendaklah jauh, jauh dari kelalaian. Seharusnya sesuatu itu apabila ditulis dan membaca mengingatkan diri pada yang memberikan ilham.


Mengingatkan diri pada Pencipta.


Ramadhan yang mulia sudah berkunjung.


Kadang-kadang hati bersedih, menunggu maut yang bakal datang menjemput.
Kadang-kadang hati gembira, berteman rakan seperjuangan.
Kadang-kadang hati merindu, Ramadhan yang bakal pergi.


Ramadhan hadir, tetap jua ia akan pergi.
Hafazan hadir, tanpa diulang akan terlupa.


Ada yang menyifatkan betapa sakitnya hati,
ada yang remuk hati. Ada yang tidak mampu berbuat apa-apa.


Kelas tasmi' pertama 8 Februari 2012.
"Tanyalah siapa sahaja, tips menghafaz, adalah mengulang."


Ulang.


Hafaz sampai masyi, ulang sampai mati.
Biiznillah.


Betapa,
pilunya bila talaqqi berehat seketika. 'Amalan lebih afdhal.
Satu fardhu bersamaan 70 fardhu. Satu sunat bersamaan satu fardhu.


Dan manusia itu tidak akan pernah merasa cukup.


"Apabila Allah memperhitungkan dosa-dosa hamba,
maka akan hamba memperhitungkan kebesaran maghfirahnya.


Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba,
maka akan hamba memperhitungkan keluasan pengampunanNya.


Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba,

maka akan hamba memperhitungkan pula betapa mulia kedermawaanNya."


Ditinggalkan seseorang itu, dengan kata-kata yang tidak sempurna.
Supaya setiap daripada insan itu berfikir.


"Clapping -- not just it is not Islamic, it makes you forget" -- Tariq Ramadan.
He doesn't intended to make jokes, but people laugh.


People, have to change.
But it must start with me, myself. InsyaAllah.





Allahua'lam.

Monday, July 9, 2012

ayat-ayat DIA.



Assalamualaikum w.b.t.
Kisah Ahlam,
Detik dan Nafas.
Menyintai Yang Dicintai.
Pabila Iman Diuji.
Hijab.
Pilihan.
Mereka.
Jatuh.

Niat di hati, memberi peringatan bagi yang lupa.
Antum tidak akan pernah sama, dengan kami yang biasa.
*****
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Selawat dan salam ke atas junjunganku, Rasulku, Nabi Muhammad s.a.w

Hasil karya Umairah Hawani,
Ayat-Ayat Dia.

“Jangan lupa al-Quran.”
Ahlam menganggukkan kepala. Tafsir al-Quran bertukar tangan. Langkahnya kembali menuju ke kerusi asal. Dia melabuhkan punggung dan mengulang kembali ayat-ayat kekasihnya. Ayat-ayat Dia, Allah Yang Maha Kuasa.
*****
“Jangan bezakan kami dengan orang lain,” tegas suara muslimin tidak jauh daripadanya itu. Rakan-rakan Ahlam memandangnya, sedikit risau. Ahlam menghela nafas panjang. “Ana bukan sengaja bezakan, tapi ana tidak mampu untuk melihat antum seperti orang lain,” balasnya. “Tengok, persepsi orang. Kami manusia biasa juga,” suara yang tegas itu membalas kembali. Ahlam terdiam seketika.
“Bukan menjadi kesalahan bagi mana-mana pihak, tapi jika ia pada pihak ana, maka ana dahulukan ucapan maaf,” Ahlam berbicara memecahkan keheningan yang sementara. “Memang, antum seperti pelajar lain juga. Kita belajar bersama, di tempat yang sama. Tapi, satu perbezaan antum dan kami yang lain, antum tidak boleh digelar 'biasa'. Antum hafiz al-Quran. Antum Hamlatul Quran,” bergetar sedikit suara Ahlam ketika menuturkannya. Tidak pernah dia cuba berbicara sebegitu dihadapan seorang hafiz yang dihormati.
Hafiz itu melepaskan keluhan berat. “Yang membezakan manusia bukanlah semata hafalan, tetapi takwa,” balasnya. “Kalau hanya semata kami menghafaz al-Quran membuatkan anti merasa tidak boleh bekerja sama dengan kami, apa nilainya kami?”
“Nilainya anta pilihan Allah, untuk menghafal ayat-ayatnya. Sedangkan di pihak kami ada yang bertungkus-lumus menghafaz masih tidak diizinkan Allah,” Ahlam memutuskan bicara hafiz itu. “Adakah niat kami salah? Dan apakah salah kami merasa merendah diri di hadapan antum kerana nilai hafalan di dada antum? Sesungguhnya kerana kami hormat al-Quran, kami menyayangi al-Quran begitulah penilaian antum di mata kami,” sambungnya.
Suasana semakin tegang. Tidak ada seorang mampu mengeluarkan kata.
*****
“Seseorang itu masih baik jika dia masih membaca al-Quran.”
Suara ustaz itu menarik perhatian Ahlam. Dia menghentikan bacaan lalu memandang ustaz dihadapan kelas itu. “Apabila seseorang itu menghafal al-Quran, maka apabila ada yang bertanya, dia boleh mengeluarkan dalil yang dihafal,” sambung ustaz itu lagi. “Jika ada, antara seorang hafiz dan yang bukan hafiz khitbah kamu, pilihlah yang hafiz.”
*****
“Ana biasa sahaja, boleh sahaja gelak ketawa. Satu lagi, tak ada beza pun pelajar DQ ataupun bukan. Asalkan jaga batasan, tidak jadi masalah. InsyaAllah kami tak jumud, asalkan tak hanyut. Tak kisah siapa kita dahulu, yang penting siapa kita sekarang,” suara hafiz itu memecahkan kesunyian.
Kata-kata itu mencengkam hati Ahlam bagaikan ada manusia yang sanggup meragut jantung tepat dari dadanya. Siapakah dia dahulu? Dia hanya manusia biasa, hamba yang Maha Esa. Dia menunggu ilham, dia menunggu butir-butir perkataan untuk diluahkan namun penantiannya berakhir dengan kekecewaan.
Hafiz itu bangkit dari duduknya. Ahlam memejamkan mata, tidak mahu melihat. Walapupun memang dia sudah sedia menundukkan pandangan, dia tidak mahu perasaan untuk melihat itu wujud, lalu biarkanlah kegelapan yang menjadi saksi.
“Maaf atas segalanya. Moga Allah membalas jasa baik anti,” hafiz itu berbicara. Dia memandang rakan-rakannya yang lain. “Moga Allah meredhai kita,” sambungnya lagi. Usai memberi salam dia menuju ke arah pintu. Tombol pintu dipulas perlahan.
Seketika kemudian, mesyuarat yang bermula dengan kehadiran seramai 7 pelajar, hanya meninggalkan 6 jasad yang terpaku di kedudukan masing-masing.
“Apakah ini yang anti pendamkan selama ini?” tanya Zakaria.
Ahlam membuka matanya. “Ana tidak pendamkan. Ana cuma mengharapkan seorang Hamlatul Quran itu faham, sesungguhnya dia itu pilihan Allah,” balas Ahlam.
“Anti takut kami lupa tanggungjawab kami?” tanya Danial sedikit tegas. Empat pasang mata memandang ke arahnya, kecuali Ahlam.


"لا يسمي الإنسان بالإنسان إلا لنسيانه” balas Ahlam. 


“Manusia tidaklah disebut dengan insan kecuali bahwa dia adalah makhluk yang sangat pelupa. Mengapakah anta merasa ayat al-Quran ada yang berulang-ulang?” Ahlam berhenti lalu menarik nafas panjang.
“Ana letak jawatan,” Ahlam menghabiskan bicara. Salam diberikan dan langkahnya menuju ke luar. Hancur hatinya melepaskan amanah, namun dia tidak berdaya lagi berada di situ.
******
Allahua'lam.

Sunday, July 8, 2012

Pejamkan mata,


Assalamualaikum w.b.t.


Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Bagaimanakah untuk diri ini,
bagaimanakah untuk hamba ini tidak menulis akan sesuatu yang membahagiakan?


Kegembiraanku bertalaqqi semula bersama Syeikhuna Ustaz Muhadir bin Hj Joll.
Dan keterbukaan hatiku untuk melihat guru baru, Syeikhuna Ustaz Nidzam Abd Kadir.
Kerana sudah beberapa Syeikhuna menganjurkan supaya berguru dengan ramai 'alim.


Ambillah apa yang baik, insyaAllah.


Kebahagiaanku Allah masih menganugerahkan nikmat istiqamah berkunjung ke majlis Talaqqi Madras an-Nur setiap Ahad.
Bagaimana mingguku tanpa majlis ilmu itu?


Kesyukuranku bertalaqqi bersama Syeikhuna Muhammad Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki bersama dengannya di Masjid Wilayah Persekutuan. Walaupun sedikit terlewat dari perancangan, insyaAllah ada hikmah.


"Istiqamah lebih baik daripada 100 karamah" -Syeikh Nuruddin-


Ketenanganku apabila dibuka jalan mengunjungi buat julung kalinya, rumah Allah yang dinanti, Masjid Muadz bin Jabal pada majlis yang dirindu, Mawlid Akbar.
Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.
Syukran ya Ukhti Ijj'lal.


Syukran ya Syeikhuna Ustaz Azhar Hashim,
ya Syeikhuna Habib Najmuddin Al-Khered,
ya Syeikhuna Habib Ali Zaenal Abidin,
syukran jiddan atas doa.

اللهم آمين يا رب العالمين

Bagaimanakah harus diri ini menyatakan kesyukuran?
Apabila dunia di luar, leka dan terus lalai.
Namun di dalam Masjid Wilayah itu, di rumah Allah itu,
ada yang bangkit seawal 2 pagi, ada yang seawal 4 pagi.


Bertahajud, bermunajat sehingga Subuh.
Kemudiaannya meneruskan dengan talaqqi, majlis yang barakah.


Aduhai, hati rindu kepada suasana itu.


Ya Allah, sampaikanlah diri ini ke Mesir ya Rabb.
Diri tersangat ingin bertalaqqi di sana.


اللهم آمين يا رب العالمين

Sudah dua minggu ini, ada yang mesej ana ingin ke majlis talaqqi namun pada pagi hari talaqqi membatalkan niat.
Mungkin kalau dahulu, ana akan berasa pelik dan hairan.
Namun insyaAllah sekarang tidak.


Ana tahu perasaan antum, bagaimana kadang-kadang merasa susah, kadang-kadang merasa berat.
Kadang-kadang bukan perjalanan yang jauh menjadi halangan.
Bukan jua kekurangan wang yang menjadi benteng.


Tapi kerana hati yang takut tidak mengamalkan ilmu.


من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله إلا بعدا
"Siapa yang bertambah ilmunya namun tidak bertambah amalannya, maka dia lebih jauh daripada rahmat Allah."


Ana tidak punya nasihat, jauh sekali ingin menilai.
Niat ana insyaAllah untuk berkongsi.


Pernah sekali, pertama kalinya ana ingin ke majlis ilmu Syeikh Fahmi Zamzam, yang pernah dahulu hati ana berbisik, "Tidak mungkin akan dapat bertemu Syeikh kerana jarak kami." Ditakdirkan Syeikh hadir ke negeri ini, negeri Selangor lalu ana bergegas mencari jalan.


Dan ternyata, ana harus berjalan.


Ana berjalan kaki sampai ana terasa hendak duduk, hendak meratap menangisi perjalanan yang jauh. Hendak menjerit adakah kepayahan ini kerana Allah tidak takdirkan diri ini bertemu Syeikh?


Kerana salah seorang guru ana pernah berkata, "Bukan kita yang tidak mahu berjumpa Syeikh, tetapi Allah tidak membenarkan Syeikh itu melihat muka kita."


Kerana itu, ana bersedih hati sepanjang perjalanan.
Hinggalah saatnya ana sampai ke gerbang masjid, mendengar suara Syeikh dan akhirnya hingga sekarang, sebulan sekali insyaAllah dipertemukan.
Alhamdulillah pertemuan terakhir ana memberanikan diri meminta sanad.


Dan itulah nikmat Allah kepada ana.
Hamba yang faqir lagi hina.


Ana dan antum, harus berlari. Kerana darjat kita dan para ulama', habaib dan asatizah tidak sama. Ana dan antum, harus berkejar. Jika saatnya merasakan diri ini kotor dengan dosa, sucikanlah. Sesungguhnya dosa itu disucikan dengan amalan kebaikan.



"Dan orang yang sabar kerana mencari keredhaan Tuhannya, mendirikan solat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau terang-terangan, serta menggantikan kejahatan dengan kebaikan, orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)" Ar-Ra'd: 22


Kenapa ana lebih rela memakai pakaian hitam?
Kerana kadang-kadang, terlintas di hati, "Adakah sebenarnya pandangan Allah kepadaku menampakkan hitamnya diri ini seperti apa yang ku pakai?"


Untuk menjaga hati, pejamkanlah mata.
Jangan lihat dunia.


Dan jika terlihat, ketahuilah bahawa itu langsung tiada nilainya.


Allahua'lam.